12 Tahun Refleksi Tsunami 

Terdengar kabar gempa kuat melanda bumi Serambi Mekkah yaitu di Banda Aceh  pada 26 Desember 2004 lalu. Tercatat gempa berkekuatan 8,9 SR juga disertai tsunami. Tapi apakah itu tsunami? Kebanyakan dari kita pada saat itu belum mengetahui apa itu tsunami.

Gempa mengakibatkan lempengan bumi yang berada di Samudera Indonesia bergerak hingga mengakibatkan gelombang laut yang besar. Gelombamg laut ini lah pada 26 Desember 2004 menerjang Bumi Serambi. Bukan hanya kota Banda Aceh, tetapi sejumlah daerah lainnya di Aceh terkena dampaknya. Bahkan dibeberapa negara tetangga seperti Thailand dan Sri Langka juga tak luput dari  tsunami.

Gelombang maha dahsyat yang diperkirakan memiliki ketinggian sekitar 20 meter langsung meluluhlantakkan Banda Aceh serta beberapa daerah lainnya. Bangunan masjid, jembatan, bandara, rumah warga, serta fasilitas umum lainnya hancur hingga tak dapat digunakan kembali. Korban jiwapun berjatuhan, tercatat sekitar 280.000 orang terwas akibat peristiwa ini.

Secara langsung pemerintah menetapkan tanggap darurat bencana terhadap Aceh dan menjadi bancana nasional. Sejumlah bantuan dari nasional maupun international pun mengalir. Melalui tahapan kerja berupa evakuasi korban, pengungsian, medis, serta pembangunan kembali sarana dan prasarana yang hancur.

Kini genap sudah 12 tahun bencana itu berlalu. Pembangunan sarana dan prasarana sudah memadai. Sejumlah rumah-rumah bantuanpun sudah ditempati para sanak famili korban tsunami. Beberapa tempat bahkan simbolik dari kehancuran tsunami kini dijadikan monumen. Diantaranya Monumen Kapal Tsunami di Lampulo, PLTD Apung I di Gampong Punge Blang Cut, Kubah Masjid Tsunami di Gampong Gurah, dan lainnya. Bahkan pada 2009 pemerintah meresmikan Museum Tsunami sebagai bentuk tempat sejarah, penelitian, dan pendidikan.

Refleksi 12 tahun pasca terjadinya bancana maha dahsyat ini membuktikan dan mengingatkan kepada kita hambanya akan kekuasaan yang maha kuasa Allah SWT. Dan senantiasanya kita mengambil hikmahnya untuk memahami dan belajar dari peristiwa yang terjadi. (Imaji Pertiwi/Ferdy Siregar)

 

413 total views, 2 views today

Share with:

FacebookTwitterGoogle