Gempa Pidie Jaya 6,4 SR
Aceh Merintih Duka

Bangunan sekolah itu runtuh, keramik yang melapisi semen bangunan itu pun terkelupas. Anak tangga yang biasanya dipijak kaki para santri sekolah ini pun tak beraturan lagi. Huruf U pada kata Darusalam yang terpacak pada dinding bangunan sekolah itu pun hilang. Kaca-kaca pecah, berserak hingga ke jalanan. Gempa datang tiba-tiba. Tanpa tanda yang mengabarkan kepada mereka. Lagu bungong jeumpa pun merintih dinyanyikan oleh mata pada wajah-wajah korban gempa Pidie Jaya, Aceh.
Rahmad Ardiansyah (19), santri di Yayasan Pendidikan Islam Al Aziziyah, Sekolah Tinggi Agama Islam Al Aziziyah, Samalanga, Kabupaten Bireun, Nangroe Aceh Darusalam pun sedu sedan. Raut wajahnya masih menyisakan duka tatkala mengisahkan ulang kejadian gempa.
“Awal terjadinya gempa pada pukul 05.05 subuh. Pada saat itu sebagian santri masih ada di kamar dan sebagian lagi masih ada yang berada di masjid untuk melaksanakan sholat tahajud, menunggu sholat subuh berjamaah,” bebernya lirih.
Kejadian itu masih lekat dalam ingatannya. Bahkan ketika mendengar suara gelegar, Rahmad langsung bergidik. Matanya sontak awas menatap langit. Kuduknya pun turut merinding.
Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, diguncang gempa bumi 6,4 Skala Richter (SR), pada Rabu Desember 2016 lalu. Sejumlah bangunan rusak bahkan roboh. Masjid, sekolah, bangunan perkantoran juga rumah-rumah yang didiami warga Pidie Jaya. Setidaknya berdasarkan data yang tersiar dari rapat koordinasi penanganan bencana Pidie Jaya dengan Presiden Joko Widodo di Banda Aceh, Kamis, 8 Desember 2016. Tercatat ada 105 ruko runtuh, 12.560 unit rumah rusak ringan hingga berat, 49 masjid roboh, dan 1 RSUD Pidie Jaya rusak berat.
kerusakan akibat gempa tidak hanya di Kabupaten Pidie Jaya. Di Kabupaten Bireun, kerusakan akibat gempa juga cukup parah. Dirinci di Bireun, ada 41 rumah rusak ringan hingga berat, 1 masjid rusak berat, satu bangunan sekolah rusak, dan satu kilang padi rusak. Sementara itu, di Kabupaten Pidie, ada 40 rumah rusak. Bahkan data yang dikeluarkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, total ada 102 korban tewas, 1 hilang, 136 luka berat, 616 luka ringan, serta 10.029 mengungsi.
Pusat gempa bumi terletak pada koordinat 5,25 Lintang Utara dan 96,24 Bujur Timur, tepatnya di darat pada jarak 106 kilmeter arah tenggara Kota Banda Aceh pada kedalaman 15 km.
Gempa pidie membangkitkan duka warga Aceh yang belum sempat terobati. Namun persis kejadian bencana alam lainnya, masyarakat Pidie tak bisa menolak nyata yang telah terjadi. Wajah-wajah lirih dengan sejuta trauma tentang tsunami terbayang di pelupuk mata mereka.
Pun Nek Fatimah yang telah lupa dengan usianya. Dalam kerentaannya, dia bilang, dia beruntung. Padahal dia tinggal di rumah kayu. Tapi selamt. Sementara tetangganya yang tinggal di bangunan permanen malah banyak yang tewas.
“Aku untung masih hidup, padahal kayu-kayu rumahku,” katanya.
Tangannya terus mengorek tanah yang telah bercampur dengan reruntuhan bangunan. Mana tahu dia menemukan miliknya yang berharga.
semuanya habis tak ada yang tersisa, ucapnya, kecuali pakaian dan kain.
Sadiah (66) mengaku sejak dini hari sudah terbangun. Dia mau sholat subuh. Tapi suara adzan belum terdengar.Nek Sadiah pun menunggu. Tatkala suara adzan berkumandang, gempa pun terjadi. Semuanya bergoyang. Gempa tidak memberi waktu bagi Nek Sadiah untuk bangkit dari geraknya.
“Semua bergoyang, semua berbunyi, tak tuk tak tuk,” bilangnya.
Alhamdulillah, banyak yang membantu, sahut Haekal (32).
“Semuanya telah membantu kami. Semuanya telah datang ke sini. Mereka juga menangis bersama kami,” ungkapnya.
Sebuah senyuman berbayang duka mereka berikan. Bantuan yang datang dari segala penjuru mata angin menitipkan sebuah psan, ternyata cinta sesama manusia masih ada.

213 total views, 2 views today

Share with:

FacebookTwitterGoogle