Apa kabar Gunung Sinabung? Apakah kau merindukan kekasihmu?
Piso surit…
piso surit…
terdilo dilo terpingko pingko…
Lalap la jumpa ras atena ngena…
Bendera merah putih berkibar dihembuskan oleh angin pada pagi yang cerah. Bait-bait lirik lagu Piso Surit dinyanyikan anak-anak Sekolah Dasar Negeri No.040480 Sukandebi, Kecamatan Naman Teran, Kabupaten Karo. Lantunan itu menggema sampai ke pucak Gunung Sinabung. Anak-anak SD ini memang sedang jatuh cinta. Hati mereka sudah tertambat pada desa yang menyaksikan mereka tertawa, dan menangis. Mereka kasmaran, persis lirik nyanyian yang mereka lagukan. Anak-anak ini bernyanyi di hadapan poster susunan kabinet kerja 2014-2019, di hadapan foto-foto para menteri yang sedang menyunggingkan senyum.
Ija kel kena tengah na gundari
siangna menda turang atena wari
Entabeh naring matakena tertunduh
Kami nimaisa turang tangis teriluh
Anak-anak SD itu terus bernyanyi meskipun erupsi ke sekian kalinya dikeluarkan Gunung Sinabung. Udara yang menghembuskan debu sisa erupsi itu pun sampai kepada mereka. Melekat pada baju seragam sekolah. Menempel pada dinding sekolah, juga pada meja dan kursi yang mereka duduki.
Tapi masih ada sejumput harapan tatkala anak-anak ini menyaksikan semangat orangtua mereka yang masih berladang. Masih ada sinar suka. Muncul pada cabai yang merona merah. Masih ada kehidupan yang tampak pada buah tomat yang menguning. Ya. Masih ada asa pada air yang memberi kehidupan pada tanaman sayur di ladang mereka.
enggo enggo me dagena…
mulih me gelah kena…
bage me ningku rupah agi kakana…
Ini sekelumit kerindungan sang Deleng Sinabung; Gunung Sinabung dalam bahasa Karo. Dia merupakan gunung api di Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Indonesia. Sinabung bersama Gunung Sibayak di dekatnya adalah dua gunung berapi aktif di Sumatera Utara dan menjadi puncak tertinggi ke 2 di provinsi itu. Ketinggian gunung ini adalah 2.451 meter. Gunung ini tidak pernah tercatat meletus sejak tahun 1600,[2] tetapi mendadak aktif kembali dengan meletus pada tahun 2010. Letusan terakhir gunung ini terjadi sejak September 2013 dan berlangsung hingga kini.
Sejatinya alam telah menunjukkan simbol yang lebih manusiawi dibandingkan kita (manusia). Berkaca pada mata anak-anak SD itu seperti menampar diri sendiri. Bencana tak menyurutkan langkah mereka untuk mendapatkan pendidikan. Demi masa depan yang gemilang. Bencana juga tak membuat mereka cengeng untuk mengeluh tentang debu vulkanik yang mengikuti setiap langkah dan gerak mereka. Senyum mereka sampai kepada puncak si Deleng Sinabung. Hanya untuk menguatkan, jangan sedih duhai Sinabung sebentar lagi kekasihmu akan datang. Bagaimana dengan kita?
Tengah kesain keri lengetna…
Seh kel bergehna…
Terkuak manuk ibabo geligar…
Enggo me selpat turang…
Kite kite ku lepar…

213 total views, 2 views today

Share with:

FacebookTwitterGoogle