Bermula dari tuntutan kualitas hidup yang lebih baik, sekelompok orang Tionghoa dari Provinsi Fujian, China, merantau menyeberangi lautan dengan kapal kayu sederhana. Dalam kebimbangan kehilangan arah, mereka berdoa ke Dewa Kie Ong Ya yang saat itu ada di kapal tersebut agar kiranya dapat diberikan penuntun arah menuju daratan.

Tak lama kemudian, pada keheningan malam tiba-tiba mereka melihat adanya cahaya yang samar-samar. Dengan berpikiran di mana ada api disitulah ada daratan dan kehidupan, akhirnya mereka mengikuti arah cahaya tersebut, hingga tibalah mereka di daratan Selat Malaka tersebut. Daratan tersebut dikenal dengan nama Bagansiapi-api di Kabupaten Rokan Hilir, Riau.

Untuk memperingati hari bersejarah ini, dilaksanakanlah Ritual Bakar Tongkang dikenal juga sebagai Upacara Bakar Tongkang atau singkatnya dalam Bahasa Hokkien dikenal sebagai Go Gek Cap Lak adalah sebuah ritual tahunan masyarakat di Bagansiapiapi yang telah terkenal di mancanegara dan masuk dalam kalender visit Indonesia. Ritual ini telah dilaksanakan secara turun-menurun sejak tahun 1883 lalu.

Untuk tahun ini jatuh upacara ini berlangsung pada tanggal 10-11 Juni.Dimulai dengan prosesi sembahyang yang digelar menjelang ritual puncak. Kelenteng In Hok Kiong yang berada di kawasan Pekong Besar, Kota Bagan Siapiapi akan dipadati ribuan warga Tionghoa. Mereka sembahyang dan berdoa dengan khusyuk.

Persiapan menjelang pembakaran Tongkang, segala utusan dari kelenteng-kelenteng di Bagansiapiapi berkumpul untuk bersiap-siap mengarak tongkang. Masing-masing utusan memakai seragam sendiri sebagai penanda dari rombongan.

Tongkang kemudian dilepas dengan melintasi jalanan di Kota Bagan Siapiapi. Suara mercon kemudian terdengar bersahut-sahutan. Disepanjang jalan menuju arena pembakaran, warga Tionghoa yang bermukim di ruas jalan ini ikut menyediakan sesembahan dan memasang dupa di depan rumahnya masing-masing.

Sesampainya di arena pembakaran tongkang terlebih dahulu ditentukan arah posisi haluan sesuai petunjuk Dewa Kie Ong Ya yang menurut filosofi mereka adalah petunjuk arah rezeki atau kebaikan untuk usaha dan keselamatan masyarakat Tionghoa Bagansiapiapi. Sejumlah ritualpun dilaksanakan warga hingga puncaknya pembakaran tongkang.

Para warga mempercayai bila tiang tongkang jatuh ke arah laut, maka masyarakat Tionghoa percaya bahwa rezeki dan keselamatan tahun ini akan berada di laut. Namun, bila tiang jatuh ke arah darat, maka rejeki dan keselamatan akan berada di darat. (Imaji Pertiwi/Ferdy Siregar)

527 total views, 2 views today

Share with:

Facebook

TwitterGoogle