“Apa cari bang, Sini masuk, lihat-lihat dulu bang…”

Sapaan ini begitu khas terdengar, terucap dari bibir para pelayan toko di Pajak Ikan Lama.

Umumnya pelayan toko di Pajak Ikan Lama ini didominasi kaum perempuan. Mereka menyungging senyum, ramah merayu setiap pengunjung yang datang.

“Ayo bang, masuk saja dulu…”Berlokasi di Jalan Perniagaan/Ahmad Yani 3 Medan,

Pajak Ikan Lama yang juga dikenal dengan sebutan Pasar Ikan Lama ini hanya berjarak beberapa ratus meter dari pusat titik nol Kota Medan, yakni Gedung Balai Kota Medan.

Menilik dari sejarah, jual beli resmi telah dilakukan di sini sejak pajak dibuka pada 1890. Ketika itu yang dijual di pajak ini adalah ikan hasil laut Belawan yang diangkut dengan tongkangmelalui

Sungai Deli. Selain itu ada juga pedagang yang menjual daging dan sayur-mayur.

Pada 1933 peta perniagaan pun mulai berubah. Kala itu Pemerintah Belanda membangun pajak yang lebih besar dan modern yaitu Pasar Sentral, sekarang disebut Pusat Pasar. Sementara itu,

Sungai Deli lama-kelamaan tak lagi bisa dilayari sehingga hasil laut dibawa menggunakan jalur darat. Barang dagangan di Pajak Ikan Lama pun berubah. Produk tekstil, seperti busana muslim,

kerudung, batik, kain panjang, kain pelekat, aneka karpet, perangkat salat, perangkat berhaji, hingga busana tradisional, mulai mendominasi. Sampai saat ini produk tekstil menjadi

barang dagangan khas di Pajak Ikan Lama. Dikenal sebagai salah satu destinasi wisata Kota Medan, Pajak Ikan Lama kerap dikunjungi oleh wisatawan yang berasal dari dalam dan luar negeri. Tempat ini begitu khas menjual produk tekstil, juga perlengkapan ibadah haji dan umroh. Selain itu Pajak Ikan Lama juga dikenal sebagai pusat grosir penjualanan

pakaian murah. Belakangan hampir seluruh produk ada dijual di Pajak Ikan Lama. Berbagai cenderamata dan aksesoris seperti kalung pelengkap busana juga ada dijual di sini. Bahkan

Air Zam-zam pun tersedia.“Tempat ini juga menjadi salah satu tujuan wisata belanja turis

Malaysia. Biasanya mereka ramai datang menjelang akhir tahun (Desember),” bilang HM Ayub, pemilik salah satu toko yang ada di kawasan Pajak Ikan Lama.

Umumnya para turis dari negeri jiran itu membeli perlengkapan ibadah. “Kebanyakan mereka mencari telekung (mukena), jilbab, kain, dan alat-alat salat,” sebut Ayub.Kekhasan lain yang ditemukan di Pajak Ikan Lama ini adalah para pedagang yang yang berasal dari beragam etnik. Sebutlah seperti Minang dan Mandailing. Begitupun pedagang-pedagang keturunan Arab juga cukup menonjol. Tak ketinggalan pedagang-pedagang Tionghoa yang turut melengkapi keragaman etnik para pedagang di Pajak Ikan Lama. Biasanya mereka menjual produk tekstil, mulai bahan pakaian hingga gordin jendela. Senyumpelayan toko itu kian menyungging, kain brokat berwarna merah muda telah dibeli oleh salah satu pengunjung.

“Langganan ya, besok kemari lagi ya…” (Hendra Syamhari)

347 total views, 2 views today

Share with:

Facebook

TwitterGoogle