Terlahir dari keluarga yang cukup sederhana, putra yatim-piatu bernama Ahmat Faury menekuni profesinya sebagai tenaga pengajar atau dosen di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) usai menamatkan strata dua atau S-2 nya pada tahun 2010. 

Ahmat Faury (35) terlahir dengan kondisi cacat yang tidak memiliki tangan dan kaki. Tetapi penyandang disabilitas ini tak surut semangat  untuk menimba ilmu hingga kejenjang perkuliahan. Putra kelahiran 10 Oktober 1983 di Desa Pematang Buntung, Kabupaten Derdang Bedagai, Sumut ini menamatkan S-1 nya di UINSU kala itu bernama IAIN pada tahun 2006. Dan pada saat itu menjadi lulusan terbaik dari Jurusan Sariah. 

Semangatnya untuk menimba ilmu tidak hanya sampai di sini. Di tahun 2007, Ahmat Faury hijrah dari Sumut untuk melanjutkan pendidikan S-2 nya di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Pilihanya jatuh pada Fakultas Hukum, Prodi Hukum Pidana. Usai tamat dari UGM pada tahun 2010, kini Ahmat Faury mengikuti S-3 program doktor pendidikan pasca sarjana di UINSU.

Sebagai dosen dan juga staf ahli Rektor UINSU, Ahmat Faury sangat familiar di kalangan mahasiswa.  . Cerdas, bersahabat, dan tidak ada rasa rendah diri pada dirinya membuat para mahasiswa semakin akrab pada dosen disabilitas ini. Ilmu Hukum Pidana, Etika Profesi Hukum dan Pacasila adalah tiga mata kuliah yang dikuasainya untuk diajarkan kepada mahasiswa.

Di luar profesinya sebagai dosen UINSU, Ahmat Faury juga mendirikan komunitas bernama’Meja Inspirasi’ bersama beberapa temannya. Komunitas yang berisi orang-orang kreatif kerap menjadikannya sebagai pembicara atau motivator bagi mereka yang membutukan.

“Saya sebagai penyandang disabilitas meminta pemerintah untuk membentuk Komisi Nasional Disabilitas sebagai amanan Undang-Undang No. 8/2016 tentang para penyandang disabilitas. Sehingga kami sebagai orang cacat mendapat perhatian dan jaminan dari pemerintah”, pinta Ahmat Faury.

Selamat Hari Disabilitas Internasional, 3 Desember. (Ferdy)

166 total views, 2 views today

Share with:

Facebook

TwitterGoogle