Lantunan ayat demi ayat dari kitab suci Al-Quran terdengar dari sebuah rumah yang merupakan Kantor Sekretariat Dewan Pengurus Daerah Persatuan Tunanetra Indonesia (DPD Pertuni) Sumut beralamat di Jalan Sampul, Medan Petisah. Mereka adalah para penyandang tunanetra yang saban hari kamis melakukan tadarusan Al-Qur’an braille sepanjang memasuki bulan suci Ramadhan 1440 H.

Para penyandang tunanetra yang berjumlah sekitar 60 orang ini umumnya berusia separuh baya. Dan sudah dipastikan dalam proses pembelajaran Al-Qur’an braille membutuhkan kesabaran dan waktu. Bagi mereka yang berminat wajib melalui tahapan kelas yang tersedia. Diantaranya kelas bagi pemula atau iqra, kelas mahir, kelas pemantapan, dan kelas ‘one day one juz’. Dalam pembelajarannya para penyandang ini dibimbing oleh para ustad dan mualimah yang juga penyandang tunanetra.

Minimal untuk bisa mahir membaca Al-Qur’an braille ini, para penyandang tunanetra membutuhkan waktu minimal dua tahun lamanya. Dimana tahapan belajarnya sama seperti saudara-saudara kita yang normal pengelihatannya. Cuma perbedaannya hanya dalam hal meraba. Diperlukan kecekatan dan ketepatan dalam membacakan panjang dan pendek dalam hal lafaz ayat-ayat tersebut.

Al-quran Braille muncul di Indonesia diperkirakan sejak tahun 1954 ketika Lembaga Penerbitan dan Perpustakaan Braille Indonesia (LPPBI). LPPBI menerima kiriman Al-quran Braille dari Unesco. LPPBI merupakan satu-satunya lembaga penerbitan dan perpustakaan Braille terbesar saat itu. LPPBI bernaung di bawah Departemen Sosial dan berkedudukan di Bandung.  Keberadaan Unesco di sini sesungguhnya hanya sebagai penyalur, sedangkan Al-quran Braille yang dikirim merupakan terbitan Yordania pada 1952.

Semoga tradisi tadarusan Al Qur’an braille ini yang sudah puluhan tahun terlaksana ini dapat terus terjaga dan terlaksana, terkhusus bagi mereka para penyandang tunanetra. (ferdy siregar)

222 total views, 3 views today

Share with:

Facebook

TwitterGoogle