Dua Belas Tahun Peringatan Tsunami Aceh
“Tsunami, Tolong Jangan Datang Lagi..”

ANGIN bertiup. Disambut hujan. Sufinah (57) gelisah. Dua matanya liar memperhatikan sekeliling rumah. Menatap tajam pada air di dalam gelas. Menunggu dalam cemas. Matanya tak berkedip. Dua tangannya dia kepalkan. Bibirnya bergetar. Tsu..tsu.. na.. mi, tsunami datang lagi..,bisiknya pelan. Sufinah menangis. Pecah…
“Saya takut kali. Sekarang pun jantung dah tak kuat lagi,” katanya kepada Imaji Pertiwi saat ditemui dalam acara peringatan 12 tahun tsunami, Senin (26/12) di Banda Aceh.
Ratusan kaki melangkah tertatih pada Senin kelabu. Muram menyelimuti wajah Perempuan lelaki dewasa dan anak-anak yang hadir di Kuburan Masal Siron dan Ulee Lheue, Banda Aceh. Bait doa samar terdengar dari bibir mereka. Sedu sedan tangisan terdengar, tertuju kepada langit, kepada Sang Khalik.
Para keluarga korban tsunami seakan memiliki satu rasa yang sama, kesedihan yang serupa dan ingatan yang sama. Air bunga pengantar doa mereka sapukan pada batu-batu tak bernama. Batu yang menjadi simbol bahwa di sinilah jasad korban tsunami dikuburkan. Mereka melagukan syair doa yang penuh harap. Tsunami, tolong jangan datang lagi.
Sufinah duduk bersama anak dan cucunya. Bibirnya membaca setiap ayat yang tertulis dalam buku kecil yang sedang dia pegang. Sesekali anak tertua dari 11 bersaudara ini menyapu air mata yang jatuh menetes di pipinya. Sufinah teringat kembali.
Dua belas tahun yang lalu, dia ingat berlari ke atas gunung. Memegang erat tangan cucunya, Sufina berlari sekencangnya. Suaminya tak bersamanya. Belakangan dia ketahui seseorang menginformasikan, suaminya sedang berada di kaki gunung. Anaknya hanyut.
“Tak ada yang selamat. Semuanya meninggal. Suamiku, anakku, keponakan, ipar, ayah, ibu. Semuanya hilang, kecuali anakku yang hanyut akhirnya selamat,” kisahnya. Air matanya jatuh.
Sufina mengaku masih trauma bahkan mengaku sempat ‘gila’ dalam kurun waktu 4-5 bulan. Kosong, kehilangan arah. Hanya kasih sayang saudara-saudaranya lah yang membuat dia kembali hidup normal, hingga saat ini.
Sebuah pesan dititipkan Sufina. Jalan Allah SWT adalah yang terbaik. Memperdalam ilmu agama dan janganlah riya hidup di dunia.
“Karena kita tidak pernah tahu sampai di titik mana hidup kita berakhir,” pungkasnya.
Bala tasaba, Nekmat tasyuko, disinan le ureueng bahgia (Bencana, kita sabari, nikmat kita syukuri, banyaklah orang akan bahagia).

225 total views, 2 views today

Share with:

Facebook

TwitterGoogle