Menapakkan kaki ke Labuhan, Kota Medan, Sumatera Utara seperti meyakini kembali arti toleransi dalam praktik kehidupan manusia sesungguhnya. Berabad silam, tepatnya satu abad 46 tahun silam, (1854) berdiri sebuah masjid tua bersejarah peninggalan kejayaan kesultanan melayu abad ke 19.
Masjid bewarna kuning ini bernama Masjid Al Osmani. Karena lokasinya yang berada di daerah Labuhan maka sebagian masyarakat pun menyebutnya dengan sebutan Masjid Labuhan. Masjid ini adalah masjid tertua di kota Medan.Tiga puluh enam tahun kemudian atau tepatnya pada 1890, Vihara Siu San Keng selesai dibangun. Keberadaannya yang tak begitu jauh berjarak di sebrang Masjid Al Osmani, dan sama-sama berada di pinggir Jalan Kol Yos Sudarso, Km. 19, 5, Labuhan, Medan.
Vihara Siu San Keng juga merupakan salah satu vihara tertua di Kota Medan. Lokasi dua rumah ibadah yang berdekatan ini menjadi bukti betapa pluralnya masyarakat Kota Medan sejak dulu. Warna kuning mendominasi Masjid Al Osmani. Ini merupakan warna kebesaran kesultanan Melayu. Sultan Osman Perkasa Alam, Sultan Deli ke tujuh inilah yang pertama kali membangun Al Osmani. Putra beliau yang kemudian meneruskan tahtanya membangun masjid ini menjadi sebuah bangunan permanen yang masih berdiri kokoh hingga saat ini. Masjid yang telah berusia 164 tahun ini telah mengalami beberapa kali pemugaran terhadap bangunan masjid tanpa menghilangkan arsitektur asli yang merupakan perpaduan bangunan Timur Tengah, India, Spanyol, Melayu, dan China.
Sedangkan Vihara Siu San Keng yang lekat dengan ornamen-ornamen China berwarna merah, dalam sejarahnya dikisahkan pembangunannya dipimpin oleh Bapak Shia Eng Tjai yang beranggotakan 11 orang untuk membangun vihara ini. Menariknya jika mengunjungi vihara ini, kubah masjid Al Osmani bisa terlihat begitu jelas dari pelataran vihara. Seolah-olah kedua rumah ibadah ini berdiri berdampingan.
Meskipun usianya kian menua, namun masjid ini masih menunjukkan kemegahan pada zamannya. Sebuah mimbar dari kayu berukir, lampu gantung dari kristal menjadi ornamen yang memperindah bagian dalam masjid dan tidak ketinggalan Kentongan tanda masuknya waktu salat masih berfungsi dengan baik dan masih digunakan. Sebagai salah satu destinasi wisata di Kota Medan, Masjid Al Osmani dan Vihara Siu San Keng kerap didatangi wisatawan lokal maupun luar negeri.

Sembari menikmati keindahaan kedua rumah ibadah ini, sebuah pesan tentang toleransi dalam keberagaman masyarakat juga larut dalam perjalanan wisata ke Labuhan, Sumatera Utara.

Keberagaman tak mungkin bertahan tanpa toleransi. Pun sebaliknya, toleransi tak ada artinya tanpa keberagaman. Kota Medan adalah kota yang penuh toleransi. (Hendra Syamhari)

 

 

284 total views, 2 views today

Share with:

Facebook

TwitterGoogle