Provinsi Aceh terus berbenah sejak bencana tsunami melanda wilayah ujung pulau Sumatera ini. Tahap demi tahap pembangunan,dikebut demi kesejahteraan masyarakat
terdampak tsunami, baik dari sektor perekonomian, pariwisata, budaya dan sejarah.

Pariwisata alam dan situs-situs sejarah menjadi sektor penting bagi Pemerintah Provinsi Aceh dalam pembangunan, termasuk konsentrasi jalur pembangunan bidang
kemaritiman.

Benteng Inong Balee salah satunya. Situs sejarah yang terletak tak jauh dari Pelabuhan Malahayati, kini menjadi primadona wisata di Kabupaten Aceh Besar dan menjadi
ikon kebanggaan warga setempat. Sejarah mencatat situs Benteng Inong Balee bukan saja situs nasional namun juga situs sejarah dunia, di mana, benteng yang tepatnya
berlokasi di Desa Lamreh, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, menjadi benteng laksamana laut wanita pertama di dunia.

Malahayati, nama yang tak pernah lekang oleh waktu. Ia menorehkan sejarah perjuangan wanita Aceh yang hebat. Wanita yang ditinggal mati suaminya, dalam suatu
pertempuran laut, berhasil melatih pasukan wanita Aceh. Ia memimpin 2000 Inong Balee – para janda pahlawan yang telah syahid – untuk menjadi prajurit Kerajaan Aceh
yang tangguh, turut berperang melawan pasukan musuh di kapal-kapal Belanda.

Letak benteng yang strategis ini membuat pasukan Inong Balee dapat menyerang pasukan Hindia-Belanda pada tahun 1599. Pada peristiwa tersebut, Armada Inong Balee
berhasil memukul mundur pasukan musuh. Dahsyatnya, Laksamana Malahayati berhasil membunuh pimpinan armada laut Hindia-Belanda, Cornelis De Houtman.

Perjuangan Laksamana Malahayati harus terhenti pada 1606. Ia gugur saat bertempur melawan pasukan Portugis di Perairan Selat Malaka.

Di atas bukit Gampong Lamreh, Krueng Raya, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, makam Laksamana Keumalahayati berdiri kokoh. Atas kiprahnya sebagai tokoh
sejarah bangsa Indonesia dan merupakan laksamana laut wanita pertama di dunia, Laksamana Malahayati mendapat gelar sebagai Pahlawan Nasional pada 6 November 2017
melalui Keputusan Presiden RI Nomor 115/TK/Tahun 2017 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.

Berdasarkan hal tersebut, tidak heran jika benteng yang pernah menjadi saksi sejarah kekuatan Laksamana Malahayati, yaitu Benteng Inong Balee juga ditetapkan menjadi
Struktur Cagar Budaya peringkat Nasional oleh Tim Ahli Cagar Budaya Nasional.

Untuk mengabadikan nama Laksamana Malahayati salah satunya dengan memberi nama Pelabuhan laut di Teluk Krueng Raya, Aceh Besar dengan nama Pelabuhan Malahayati.
Pelabuhan yang saat ini berfungsi sebagai penunjang di sektor perekonomian.

Pelabuhan yang terletak di Teluk Krueng Raya pantai utara Aceh ini, punya peluang besar untuk memajukan dan mensejahterakan daerah melalui sektor perekonomian, yaitu
ekspor impor.

Pelabuhan Malahayati dibangun menjadi pelabuhan ekspor impor yang bertaraf internasional. Meski sempat luluh lantak diterjang tsunami pada 2004 silam, pemulihannya
menjadi prioritas. Bagaimana tidak, kehidupan masyarakat Aceh banyak tergantung dari jaringan maritim demi menunjang perekonomian. Akhirnya, pada tahun 2007, Pelabuhan
Malahayati rampung dan dapat beroperasi kembali menjadi ‘denyut nadi’ perekonomian rakyat Aceh.
Tahun demi tahun perkembangan pelabuhan kebanggaan masyarakat Aceh ini, menambah taraf pelayanan secara signifikan.

Kini, Pelabuhan Malahayati menggeliat untuk terus berbenah demi kemajuan perekonomian rakyat Aceh. Gubernur setempat telah memasukkannya sebagai agenda atau satu dari
15 program unggulan Pemerintahan Aceh Hebat, yakni Aceh Meugoe dan Meulaot. (HENDRA SYAMHARI)

156 total views, 6 views today

Share with:

Facebook

TwitterGoogle