Nias, selain pesona pesisirnya yang rupawan, pulau ini juga menyimpan tempat-temat sejarah berupa desa-desa megalitikum. Sejumlah desa adat yang berumur ratusan tahun dapat kita temui di Pulau Nias, Sumut. Desa yang lengkap dengan peninggalan jaman batu (megalitikum) dimana meja batu, arca batu, hingga lempengan batu yang menutupi areal desa kita jumpai di sini.

Salah satunya adalah Desa Orahili Fau. Desa yang berada diketinggian sekitar 300 Mdpl dengan topografi berada di antara perbukitan dan jurang, dan hanya memiliki satu pintu masuk dan keluar. Pemukiman warga desa juga memanjang dengan orientasi barat daya hingga timur laut. Sehingga desa ini dulunya memiliki pertahanan yang cukup kuat.

Orahili Fau berada di Kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selaatan. Dimana posisinya berada di bawah Desa Bawomataluo yang sudah dikelanl turis nasional maupun mancanegara dengan atraksi lompat batunya atau fahombo batu dalam bahasa Nias-nya. Tapi taukah anda, bahwa tradisi para satria melompat batu ini awalnya berasal dari Desa Orahili Fau.

Berdasarkan catatan sejarah, Desa Orahili Fau lebih tua dibandingkan Desa Bawomataluo. Bahkan nenek moyang kedua desa ini awalnya adalah kakak-adik yang bermarga Fau. Kondisi ini terlihat dimana kedua desa ini memiliki peninggalan batu-batu datar (daro-daro) dengan bentuk menyerupai balok dan memiliki hiasan ukiran. Batu tegak (naitaro) sebagai peringatan bagi seseorang yang meninggal dan juga upacara kenaikan status serta halaman desa yang diselimuti batu-batu lempengan.

Arsitektur rumah tradisional atau oma hada dalam bahasa Nias-nya, telah berusia ratusan tahun juga dipertahankan dengan bahan yang terbuat dari kayu disertai pilar-pilar batangan kayu yang cukup kokoh. Sehingga omo hada dapat bertahan dari goncangan gempa yang sedari dulu telah dialami pulau ini.

Desa Orahili Fau juga memiliki tumpukan batu yang biasanya dijadikan arena lompatan dalam atraksi hombo batu (lompat batu). Dimana tumpukan batunya memiliki tinggi 2,15 meter, lebih tinggi dari yang ada di Desa Bawomataluo.

”Desa kami ini adalah desa tertua kedua di Pulau Nias setelah Desa Gomo. Nenek moyang kami konon datang dari kaki pegunungan Himalaya. Makanya kami ada kemiripan dengan orang Tibet,” ujar tetua suku di Desa Orahili Fau, Miliar Fau yang memiliki gelar Tuha Ilawa Nia alias King of The King.

 

Hingga kini anak-anak dan para remaja pria aktif berlatih atraksi lompat batu. Karena atraksi ini merupakan tradisi sakral proses pendewasaan seorang remaja putra. Selain itu, warga juga aktif merawat budayanya dengan berlatih tari perang, tari moyo, serta tatanan adat istiadatnya.

Semoga dengan merawat budaya yang ada, berarti kita merawat masa depan bagi anak cucu kelak. (ferdy)

321 total views, 3 views today

Share with:

Facebook

TwitterGoogle