Subuh itu ketika sang surya keluar dari ufuknya tepat pada pukul 05.03 WIB, Serambi mekah kembali diguncang gempa bumi tepatnya di Kabupaten Pidie Jaya, Pidie, & Biruen, Aceh. Gempa bumi berkekuatan 6,5 skala richter mengguncang Aceh selama 15 detik Pusat gempa berada di koordinat 5,25 LU dan 96,24 BT, tepatnya di darat pada jarak 18 kilometer tenggara Sigli, Pidie dan 2 kilometer utara Meureudu, Pidie Jaya pada kedalaman 15 km.

Beberapa jam setelah gempa, laporan kerusakan bangunan mulai tersebar, termasuk melalui media sosial. Laporan terdiri dari runtuhnya sebuah masjid di Samalanga, Bireuen bangunan minimarket dan stasiun pengisian bahan bakar di Pidie Jaya yang roboh serta terbelahnya badan jalan di daerah setempat.

Sedikitnya 101 orang meninggal dunia akibat gempa ini. Data dari BNPB menunjukkan jumlah korban meninggal terbanyak berasal dari Kabupaten Pidie Jaya dengan 96 korban. Selain itu, terdapat 139 orang luka berat, 718 orang luka ringan, serta 43.529 orang yang mengungsi. Korban yang mengalami luka-luka dirawat di empat rumah sakit, dua di antaranya berada di Bireuen dan Sigli, Pidie.

Menurut data BNPB, tercatat 105 unit ruko roboh, 348 rumah rusak berat, 14 masjid rusak berat, satu RSUD Pidie Jaya rusak berat, dan satu unit sekolah roboh.Secara rinci, di Kabupaten Pidie Jaya terdapat 105 unit ruko roboh, 268 rumah rusak berat, 14 bangunan masjid rusak berat, satu RSUD rusak berat dan beberapa ruas jalan mengalami keretakan. Di Kabupaten Bireuen, 40 unit rumah rusak berat, dua bangunan masjid rusak berat, dan satu unit kampus STAI Al-Azziziyah Mudi Mesra roboh.

Presiden Joko Widodo yang saat terjadinya gempa sedang berada di Bali dalam sosialisasi pengampunan pajak mengutus Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki untuk memantau penanganan pascagempa.Ia juga memerintahkan seluruh jajaran untuk membantu penanggulangan.Dua hari kemudian, Jokowi beserta jajarannya terbang ke Aceh untuk memantau penanganan korban gempa.

Hingga kini tim gabungan yang terdiri dari TNI,Polri,Basarnas,BNPB,Elemen masyarakat dan perorangan melakukan pembersihan puing puing bangunan dan mendirikan posko pengungsian untuk percepatan penanganan bencana. (Imaji Pertiwi/Ahmad Ridwan Nasution)

604 total views, 4 views today

Share with:

Facebook

TwitterGoogle